Memaparkan catatan dengan label Kisah Kaum Bani Israil. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kisah Kaum Bani Israil. Papar semua catatan

Selasa, 7 Julai 2015

KISAH AHLI IBADAH SHALIH JURAIJ AL ABID DENGAN IBUNYA



Kisah Juraij adalah kisah besar yang mengandung pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat. Juraij adalah seorang ahli ibadah yang shalih di kalangan Bani israil. Dia membuat ibunya kesal karena dia mendatanginya selama tiga hari agar kedua matanya bisa melihatnya dan kedua telinganya bisa menyimak pembicaraannya. Setiap kali datang, dia pulang dengan tangan hampa karena Juraij sibuk dengan shalat dan ibadahnya. Maka ibu Juraij mendoakan kejelekan baginya dan Allah mengabulkan doanya. Ibunya mendoakan agar Juraij tidak mati sebelum melihat wajah wanita pezina. Lalu seorang wanita pezina menuduh Juraij telah melakukan zina dengannya. Dia mengklaim bahwa Juraij adalah ayah dari bocah yang dilahirkanya. Akan tetapi, Allah menyelamatkan Juraij karena keshalihan dan ketakwaannya. Allah membuat bocah yang masih merah bisa berbicara. Dia memberitahu bapak yang ia diciptakan dari airnya. Dengan itu Allah menjawab doa ibunya dan membebaskannya dari tuduhan wanita pezina karena keshalihannya.

Teks Hadis

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
 “Tidak berbicara dalam buaian kecuali tiga orang: Isa. Dan di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang bernama Juraij. Dia sedang shalat. Lalu ibunya mendatanginya dan memanggilnya. Juraij berkata, ‘Aku menjawabnya atau meneruskan shalat.’ Ibunya berkata, ‘Ya Allah, jangan matikan Juraij sebelum Engkau membuatnya melihat wajah wanita pelacur.’ Pada waktu itu Juraij sedang berada di kuilnya, maka datanglah seorang wanita yang menawarkan diri kepadanya, tetapi juraij menolak. Lalu wanita itu mendatangi seorang pengembala dan melakukan zina dengannya. Wanita itu melahirkan seorang bocah. Wanita itu berkata, ‘Anak ini dari Juraij.’ Orang-orang pun mendatangi Juraij. Mereka menghancurkan kuilnya, mengeluarkannya dan mencacinya. Juraij lalu berwudhu melakukan shalat, kemudian mendatangi anak wanita itu. Juraij bertanya, ‘Wahai bocah, siapa bapakmu?’ Anak itu menjawab, ‘Fulan si penggembala.’ Orang-orang berkata, ‘Kami akan membengun kuilnya dari emas.’ Juraij menjawab, ‘Tidak. Cukup dengan tanah.'”

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah bahwa dia berkata,
“Adalah Juraij sedang beribadah di kuilnya. Ibunya mendatanginya.” Humaid berkata, “Abu Rafi’ menjelaskan kepada kita penjelasan Abu Hurairah tentang penjelasan Rasulullah perihal ibu Juraij manakala memangilnya. Bagaimana ibunya mengangkat telapak tangannya di atas alisnya, kemudian dia mengangkat kepalanya untuk memanggilnya. Ibunya berkata, ‘Wahai Juraij, aku ibumu, kemarilah dan berbicaralah denganku.’ Kebetulan saat itu Juraij sedang shalat. Juraij berkata, ‘Ya Allah, ibuku dan shalatku.’ Lalu Juraij memilih meneruskan shalatnya. Ibunya pun pulang. Kemudian ibunya kembali untuk kedua kalinya dan memangglnya, ‘Wahai Juraij, aku ibumu. Kemarilah dan berbicaralah denganku.’ Juraij berkata, ‘Ya Allah, ibuku dan shalatku.’ Lalu dia memilih shalatnya. Ibunya berdoa, ‘Ya Allah, ini adalah Juraij. Dia adalah anakku. Aku mengajaknya berbicara, tetapi dia menolak. Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sebelum Engkau memperlihatkan kepadanya wanita pezina.’ Dia berkata, ‘Seandainya dia berdoa agar Juraij terfitnah, niscaya dia akan terfitnah.’

Ada seorang penggembala kambing yang bermalam di kuil Juraij. Lalu seorang wanita keluar dari desa. Penggembala itu menggaulinya. Wanita itu hamil dan melahirkan bayi laki-laki. Dia ditanya, ‘Apa ini?’ Wanita itu menjawab, ‘Dari penghuni kuil ini.’ Lalu orang-orang berdatangan dengan membawa kapak dan sekopnya. Mereka memanggilnya sementara dia sedang shalat. Maka Juraij tidak menemui mereka.
Mereka mulai merobohkan kuilnya. Manakala Juraij melihat itu, dia turun kepada mereka. Mereka berkata, ‘Tanyakan kepada wanita ini.’ Juraij tersenyum, kemudian mengelus kepala bayi dan bertanya, ‘Siapa bapakmu?’ Bayi itu menjawab, ‘Bapakku adalah penggembala kambing.’ Manakala mereka mendengar jawabanya, mereka berkata, ‘Kuilmu yang telah kami hancurkan akan kami bangun kembali dengan emas dan perak.’ Juraij menjawab, ‘Jangan. Kembalikan seperti semula dengan tanah.’ Kemudian Juraij pun masuk.”

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

“Tidak berbicara dalam buaian kecuali tiga:Isa bin Maryam dan bayi Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah. Dia membangun temnpai ibadah dan tinggal di dalamnya. Ibunya mendatanginya pada saat Juraij shalat. Ibunya memanggilnya, ‘Ya Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, ibuku dan shalatku.’ Lalu dia meneruskan shalatnya. Ibunya lalu pulang. Esok harinya ibunya mendatanginya lagi, sementara Juraij sedang shalat, Ibunya memanggil, ‘Wahai Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, ibuku dan shalatku.’ Lalu Juraij meneruskan shalatnya, maka ibunya pulang. Esok harinya ibunya kembali datang, sementara Juraij juga sedang shalat. Ibunya berkata, ‘Wahai Juraij. Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, ibuku dan shalatku.’ Lalu Juraij meneruskan shalatnya. Ibu Juraij berkata, ‘Ya Allah, jangan matikan Juraij sebelum dia melihat wajah wanita pelacur.’
Lalu Bani Israil membicarakan Juraij dan ibadahnya. Di sana terdapat seorang pelacur yang terkenal cantik. Wanita itu berkata, ‘Jika kalian mau, aku akan merayunya.’ Lalu wanita itu menggoda Juraij, tetapi Juraij tidak meliriknya. Wanita itu kemudian mendatangi seorang pengembala yang berteduh di kuil Juraij. Dia berbuat mesum dengannya dan hamil. Ketika wanita itu melahirkan, dia berkata, ‘Anak ini dari Juraij.’ Lalu orang-orang mendatanginya dan menyuruhnya turun, menghancurkan kuilnya dan mulai memukulinya. Juraij bertanya, ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kamu telah berzina dengan pelacur dan dia melahirkan anak darimu.’ Juraij bertanya, ‘Mana bayi itu?’ Lalu mereka membawanya kepadanya. Juraij berkata, ‘Biarkanlah aku shalat.’ Lalu Juraij shalat. Selesai shalat Juraij menghampiri bayi itu dan menyentuh perutnya seraya bertanya, ‘Wahai bocah, siapa bapakmu?’ Bayi itu menjawab, ‘Fulan si penggembala.’ Lalu orang-orang mendatangi Juraij, mencium dan mengelus-elusnya. Mereka berkata, ‘Kami akan membangun kuilmu dari emas.’ Juraij menjawab, ‘Tidak usah. Bangunlah dengan tanah seperti semula.’ Dan mereka melakukannya.'”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwaytakan oleh Bukhari Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah. Hadis ini dalam Shahih Bukhari ada pada Kitab Ahadisil Anbiya’, bab firman Allah, “Dan sebutlah Maryam dalam Al-Kitab.”(Maryam:16), 6/476, no.3436.


Penjelasan Hadis

Dari keseluruhan riwayat dapat disimpulkan bahwa Juraij adalah salah seorang ahli ibadah yang shalih di kalangan Bani Israil. Awal mulanya dia adalah seorang pedagang, kemudian dia meninggalkan perdagangannya dan cenderung kepada ibadah. Dia membangun kuil untuk beribadah kepada Allah di dalamnya. Dia ber-uzlah dari manusia, dan inilah rahbaniyyah di mana Allah dan Rasulullah melarang kita untuk menjadikannya sebagai cara hidup.
Juraij mempunyai seorang ibu yang shalihah. Di sebagian hari si ibu datang untuk mengunjungi anaknya dan berbincang dengannya. Suatu hari ibunya datang dan memanggilnya. Pada saat itu dia sedang shalat, maka dia lebih mementingkan shalatnya daripada menjawab panggilan ibunya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempraktikkkan kepada kita perbuatan si ibu ketika memanggil Juraij. Rasullah shallallahu alaihi wa sallam meletakkan telapak tangannya di atas alis matanya, menirukan perbuatan ibu Juraij yang mendongakkan kepalanya ketika memanggil putranya. Orang-orang akan melakukan seperti halnya ibu Juraij jika orang yang dipanggil berada di tempat yang tinggi. Mereka ingin agar bisa melihat orang yang dipanggil dengan melongok kepada mereka. Mungkin sinar matahari yang menyilaukan menimpa kedua matanya ketika dia mengangkat pandanganya kepada anaknya. Dia meletakkan telapak tangannya di alis matanya untuk menahan sinar matahari dari kedua matanya.
Semestinya Juraij meninggalkan shalatnya dan menjawab panggilan ibunya, karena menjawab panggilan ibu lebih baik daripada shalat sunnah. Dia bisa meringankan shalatnya dan bersegera menemui ibunya. Akan tetapi, Juraij lebih mementingkan shalat daripada ibunya, dan sepertinya dia meneruskan kenikmatan di dalam shalatnya hingga tidak meninggalkan shalat karena satu dan lain hal.

Esok harinya ibu tersebut mengulangi pangilannya, begitu pula di hari ketiga. Nasibnya di kali kedua dan ketiga tidaklah lebih baik daripada nasibnya di kali pertama. Karena itu ibu Juraij marah, lalu dia mendoakan kejelekan baginya dan Allah mengabulkan doanya. Ibu Juraij berdoa agar Allah tidak mematikannya hingga menjadikanya melihat wajah pelacur. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kita, seandainya ibu Juraij berdoa agar tertimpa fitnah niscaya dia akan terfitnah. Jika Allah menghendaki sesuatu, maka ia terjadi dan memudahkan sebab-sebabnya.

Allah telah menyiapkan sebab-sebabnya dengan mengutus seorang pelacur untuk merayu dan menggodanya. Penyebabnya adalah bahwa Bani Israil membicarakan kebaikan dan ibadah Juraij. Maka wanita ini begitu meremehkan Juraij, keshalihan dan ketaqwaannya. Dia mengklaim bahwa jika dia yang merayunya, maka Juraij akan bertekuk lutut dan jatuh seperti yang lain. Wanita ini begitu percaya diri dengan alasan kecantikannya. Hadis diatas menyebutkan bahwa orang-orang menjadikan wanita ini sebagai ikon kecantikan dan kemolekan. Orang-orang yang terjerumus ke dalam lumpur kenistaan mengira bahwa semua manusia adalah seperti yang mereka kenal. Mereka tidak menyangka bahwa di antara manusia terdapat hamba Allah yang menjauhi kenikmatan dunia yang hanya sementara dan tidak abadi, juga bahwa terdapat di kalangan mereka orang-orang dengan iman dan taqwa serta agama yang menjaga mereka sehingga tidak terjerumus ke dalam kenistaan dan perbuatan keji. Di antara mereka adalah Nabiyullah Yusuf yang menjadi teladan di bidang ini dan Al-Quran telah menyampaikan kisahnya. Lalu ada Juraij, si ahli ibadah yang digoda oleh wanita pelacur tetapi dia tidak menolehnya, tidak tergoda dan terus khusyu’ dalam ibadah dan shalatnya, seolah-olah dia tidak melihat dan menyaksikannya.

Orang yang mengetahui tabiat manusia akan mengetahui sejauh mana kesedihan dan kemarahan yang ada di hati wanita nista akibat penolakan seperti ini. Dengan penolakan ini, maka dia kalah perang. Hal ini karena dia telah berjanji kepada orang-orang yang membicarakan kebaikan Juraij agar ia memfitnahnya dan menjerumuskannya ke dalam pelukannya. Sekarang, dia pulang dengan hasil yang nihil. Keinginannya gagal dan impiannya kandas.

Dia benar-benar tidak bisa menerima hal ini. Oleh karena itu, dia membuat makar besar terhadap Juraij. Wanita ini melihat seorang penggembala yang menginap di kuil Juraij. Dia menginap bersamanya dan berbuat mesum dengannya. Hasilnya, dia hamil di malam itu. Manakala dia melahirkan bayinya, dia mengatakan bahwa dia adalah hasil perbuatan Juraij ahli ibadah. Juraijlah pelaku perbuatan buruk ini. Ini berarti Juraij beribadah secara dusta, kebaikannya hanyalah sekedar pemanis palsu.

Betapa sedih dan marahnya orang-orang manakala mereka meletakkan kepercayaan kepada orang-orang yang menampakkan kebaikan, ketaqwaan dan keteguhan beragama, kemudian ternyata mereka buruk. Orang-orang yang mereka percayai hanya serigala berbulu domba atau musang berbulu ayam untuk menipu orang-orang bodoh. Maka, mereka pun berbalik melawan ketika kesempatan tersebut tersedia, sebagaimnana orang-orang memperlakukan rahib yang diceritakan oleh Salman ketika dia mengambil dan menimbun harta sedekah mereka. Mereka menyalibnya setelah dia mati dan menolak menguburkannya.
Penduduk desa mendatangi Juraij dengan kemarahan yang memuncak di hati dan pembuluh darah mereka. Mereka meminta Juraij turun dan meninggalkan ibadah dusta yang ditampakkannya. Tetapi Juraij tidak menghiraukan panggilan mereka karena dia terus larut dalam ibadah dan shalatanya. Pada saat itu kapak-kapak dan sekop mereka bekerja menghancurkan kuil Juraij. Melihat itu Juraij pun turun untuk menemui mereka. Akibatnya, mereka meneriaki dan memukulinya. Ketika Juraij bertanya tentang alasan kemarahannya, mereka mengatakan perbuatan Juraij. Mereka meminta agar Juraij bertanya kepada wanita yang telah mengakui apa yang dia akui itu.

Juraij tersenyum mendengar ucapan mereka. Dia benar dalam ibadahnya, jujur dalam istiqamahnya. Dia yakin tidak melakukan seperti tuduhan mereka. Tuduhan wanita hina itu hanyalah dusta yang terbuka. Juraij meminta kepada oranng-orang yang marah agar memberinya waktu untuk berwudhu dan shalat. Selesai shalat dia mendatangi bocah yang baru dilahirkan beberapa jam atau beberapa hari. Juraij menyentuh perutnya sambil bertanya, sementara orang-orang terdiam, “Siapa bapakmu?”

Sebuah ayat Allah yang menunjukkan kepada-Nya dan kepada besarnya kodrat-Nya, bayi itu berbicara dengan suara yang terdengar, ucapan yang jelas dan dipahami. Bayi itu menjawab, “Bapakku adalah fulan penggembala kambing.” Orang-orang menyadari besarnya kejahatan mereka terhadap seorang hamba shalih. Mereka mengetahui bahwa Juraij tidak termasuk dalam deretan orang-orang yang mereka duga. Juraij bukan penjilat dan bukan penipu, dia benar dalam ibadah dan keshalihannya, dan bahwa wanita inilah yang telah berdusta dengan menuduh Juraij. Mereka menyadari bahwa mereka telah terburu-buru mempercayai tuduhan itu, sebagaimana mereka telah gegabah memukuli Juraij dan merobohkan kuilnya. 

Orang-orang yang bertindak terburu-buru itu mencoba menghapus kesalahan mereka pada Juraij. Mereka menawarkan kepadanya untuk membangun tempat ibadahnya dari emas atau perak, tetapi Juraij menolaknya. Dia ngotot supaya tempat ibadahnya dikembalikan dengan tanah seperti sedia kala. Mereka melakukan. Begitu selesai Juraij masuk kembali untuk beribadah kepada Tuhannya.

Allah telah menjawab doa ibu Juraij pada Juraij. Dia mewujudkan keinginannya, akan tetapi Dia menyelamatkannya dengan keshalihan dan ketaqwaannya. Terdapat dua pelajaran yang berharga pada dikabulkannya doa ibi Juraij dan selamatnya Juraij.

KISAH MISTERI HAIKAL TEMPAT IBADAH NABI SULAIMAN as



Haikal Sulaiman ‘alaihis salam yang diklaim orang-orang Yahudi terpendam dan tertimbun di area Masjid al-Aqsa sekarang adalah salah satu isu utama di balik penjajahan Israel di Palestina. Tulisan ini memaparkan secara ringkas informasi tentang Haikal Sulaiman itu sendiri dan misteri keberadaannya.

Haikal Sulaiman ialah tempat ibadah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam termasuk penyembelihan kurban persembahan kepada Allah ‘azza wa jalla. Dalam Haikal ini terdapat kuil suci, dan tabut. Didirikan di kola Ursyalim (Yerusalem) di atas bukit Muria, di tempat yang sama Nabi Daud ‘alaihissalam sebelumnya juga mendirikan tempat beliau beribadah.

Bani Israel mengalami peperangan dalam rentang waktu cukup lama. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa wilayah pemukiman yang pasti, demikian seterusnya sampai era Nabi Daud ‘alaihis salam. Oleh karena itu mereka pun tidak memiliki rumah ibadah untuk melaksanakan ritual ibadah. Mereka mengusung-usung tabut dari satu tempat ke tempat yang lain. Ketika Nabi Sulaiman ’alaihis salam memerintah Bani Israel, kondisinya sudah sangat membaik, beliau berhasil meredam peperangan. Periode beliau dapat dipandang sebagai masa keemasan Bani Israel; harta berlimpah, kondisi keamanan stabil, pemerintahan kerajaan mapan. Deegan situasi yang kondusif seperti itu Nabi Sulaiman pun dapat mendirikan Haikal.

Tabut sendiri adalah peti yang dibuat Bani Israel, di dalamnya terdapat tongkat Nabi Sulaiman ’alaihissalam dan Nabi Harun ’alaihissalam ; juga dua lempengan batu yang bertuliskan ayat-ayat Taurat; dan naskah kitab Taurat yang diyakini ditulis tangan oleh Nabi Musa ’alaihissalam; berikutnya bejana isi tiga liter yang di dalamnya ada al-mann, yaitu makanan dan minuman yang sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia. Al-Mann ialah sejenis manisan yang dihasilkan oleh pohon-pohonan yang mendapat siraman hujan sehingga terbentuk seperti sarang burung, kurang ­lebih seperti sarang burung Layang-­layang. Sebagian ulama Tafsir ada yang mengatakan bahwa al-Mann itu adalah sarang burung Gagak. Sedangkan salwa adalah sejenis burung yang gemuk penuh daging. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur’an,

“Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan untuk kamu mann dan salwa” (Q.S. al-Baqarah 02: 57)

Mann dan salwa diturunkan Allah kepada Bani Israel.
Nabi Sulaiman ’alaihissalam memulai pembangunan Haikal pada tahun keempat pemerintahan beliau dengan mempekerjakan 180 ribu pekerja. Bebatuannya didatangkan dari Yaman, dan kayu dari Libanon. Tiang-tiangnya berlapis emas murni, sementara dindingnya dihiasi dengan batu permata dan pualam. Pembangunan Haikal memakan waktu delapan tahun berturut-turut.
  1. Kuil Suci: bangunan permanen berbentuk kubus, tidak berjendela, dibangun di area tertinggi Haikal Sulaiman yang disebut dengan Haikal. Antara Kuil Suci dan bagian lain bangunan terdapat dinding pemisah dan rantai dari emas, dan beberapa pintu yang hanya dimasuki oleh para pemimpin spiritual pada hari pengampunan.
  2. Tabut adalah-tempat–menyimpan Tabut sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
  3. Karaben ialah: patung-patung burung bersayap besar yang menaungi tabut di bagian kiri dan kanan Haikal Sulaiman.
  4. Altar Kurban,yaitu: tempat penyembelihan kurban yang dilaksanakan setiap hari sebagai ibadah kepada Allah.
  5. Menara dan Meja Roti Per­sembahan, yaitu tiang-tiang di mana di bawahnya diletakkan kurban dan roti persembahan.
  6. Tempat mencuci kurban dan mandi pemimpin spiritual, terdapat di luar Haikal.
Haikal Sulaiman mengalami tiga kali penghancuran, yang semuanya terjadi sebelum Masehi. Penghancuran pertama dilakukan oleh Raja Nebukadnezar ketika berhasil menguasai Yerusalem. Setelah Raja Heredos membangunnya kembali untuk menarik simpati orang-orang Yahudi, Haikal Sulaiman kembali dihancurkan oleh Raja Anthiokhos yang menyerang Yerusalem. Ke­mudian Herodos kembali merebut kekuasaan dengan bantuan orang-­orang Romawi, dia pun kembali membangun Haikal untuk kali ketiga. Tetapi tidak lama kemudian kekuasaannya berakhir di tangan panglima perang Romawi Adrianus yang juga menghancurkan Yerusalem dan membersihkannya dari orang­-orang Yahudi dengan melakukan pembantaian dan pengusiran. Demikian kehancuran bangunan Haikal Sulaiman ini.
Setelah agama Nasrani tersebar di Palestina, orang-orang Nasrani pun menghancurkan pondasi Haikal Sulaiman di masa pemerintahan kaisar Romawi Konstantin, sehingga tidak berbekas sama sekali kecuali bagian pagar yang sebagian besarnya adalah dinding Buraq atau yang disebut oleh orang Yahudi saat ini sebagai tembok ratapan. Bagian-bagian yang hilang tidak berbekas itu yang hingga sekarang masih dicari-cari oleh orang Yahudi. Motivasi mereka untuk menemukan kembali situs Haikal ialah: menghancurkan Masjid al-Aqsa dan membangun kembali Haikal Sulaiman.

Sesunggulinya tidak seorang pun yang menyangkal bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah membangun tempat suci untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla; tidak dipungkiri bahwa bangunan tersebut pun menjadi salah satu rumah Allah. Oleh karena itu Allah menyebutnya dalam al-Qur’an sebagai al-Masjid al-Aqsa sebagaimana yang terdapat di awal surah al-Isra. Orang-orang Yahudi pada saat ini berusaha keras untuk membuktikan bahwa Haikal Sulaiman sebagaimana yang dibangun oleh Nabi Sulaiman berada tepat dan terkubur pada lokasi Masjid al-Aqsa hari ini dengan luas yang sama. Namun demikian, terlepas apakah mereka betul akan menemukannya atau tidak ada sama sekali, sesungguhnya kita umat Islam lebih berhak atas Nabi Sulaiman dan rumah ibadah yang telah beliau bangun. Gambar rekaan bangunan Haikal Sulaiman seperti yang dipublikasikan oleh orang-orang Yahudi kepada dunia sebenarnya tidak memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu desain dan ornamen bangunan yang ditampilkan menjadi pertanyaan tersendiri di kalangan arkeolog; karena jelas-jelas bercorak Romawi, berbeda jauh dengan gaya bangunan yang dikenal pada masa Nabi Sulaiman.

Dari sisi lain, kata Haikal sendiri berasal dari bahasa Sumeria aikal kemudian diarabkan menjadi Haikal yang berarti bangunan besar, kemudian lebih umum digunakan untuk bangunan besar yang dipakai untuk beribadah. Karena itu rumah ibadah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman tersebut pun beliau sebut Aikal. Kita umat Islam beriman bahwa Nabi Sulaiman bin Daud `alaihima as-salam beliaulah yang mendirikan Masjid al-Aqsa. Orang Yahudi menyebutnya Haikal, dan kita menyebutnya Masjid. Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Amru bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ­bersabda,

“Tatkala Sulaiman bin Daud selesai membangun Baital-Magdis, dia berdo’a kepada Allah meminta tiga perkara: Hukum yang sesuai dengan hukum-­Nya; kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelah dia; dan tidak seorang pun yang mendatangi masjid ini semata-mata untuk shalat, melainkan dihapuskan dosa-dosanya sebagaimana dia dilahirkan oleh ibunya. Rasulullah berkata, ‘Adapun yang dua, sesungguhnya Allah telah mengabulkannya, saya berharap beliau juga diberi yang ketiga.’”

Masjid al-Aqsa yang ada sekarang dibangun di atas reruntuhan Masjid yang dibangun oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang disebut Haikal oleh orang Yahudi, tetapi sumber-sumber Yahudi sendiri saling bertentangan dalam menjelaskan luasan dan spesifikasi atau rincian Haikal. Dalam kitab Hezkel (42: 15, 19) dijelaskan bahwa panjang masing-masing pagar terluar ialah 500 qasbah sehingga luas totalnya ialah 2,5 kilometer persegi. Padahal pada saat itu luas Masjid al-Aqsa tidak lebih dari satu kilometer persegi. Inilah diantara bukti ketidakbenaran tuduhan orang‑orang Yahudi. Pertentangan serupa juga terdapat antara perjanjian lama dan sumber-sumber Yahudi; keterangan yang terdapat dalam Safar Raja-Raja Pertama (6:3) berbeda sekali dengan yang disebutkan dalam Berita Hari-Hari Kedua (3:3). Selain membuktikan kebo­hongan klaim Haikal Sulaiman versi Yahudi, pertentangan itu juga membuktikan bahwa kitab-kitab tersebut bukanlah kitab suci yang murni dari Allah; mustahil kontradiksi semacam ini dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Suci Allah dari hal-hal seperti itu.

Sesungguhnya dalih orang-orang Yahudi dalam melakukan penggalian di bawah masjid al-Aqsa dalam rangka mencari dan meneliti situs peninggalan Nabi Sulaiman adalah kebohongan belaka, karena Masjid al-Aqsa berada di daratan tinggi yang terdiri atas bebatuan, bukan tanah atau padang pasir. Dengan demikian mustahil dibawahnya tertimbun situs-situs peninggalan Nabi Sulaiman. Gambar Haikal yang dipublikasikan oleh Yahudi sendiri pun menggambarkan bahwa posisinya yang berada didataran tinggi dikelilingi oleh pagar pada keempat sisinya persis seperti Masjid yang ada sekarang. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan sebenarnya dari penggalian yang mereka lakukan di bawah Masjid al-Aqsa adalah untuk membuat keropos tanah pertapakan Masjid supaya ambruk. Jika Masjid telah ambruk – demi Allah, semoga hal tersebut tidak terjadi – maka Masjid tersebut pun tinggal puing-puing dan sisa-sisanya, sehingga status kita umat Islam sama dengan mereka, sama-sama tidak memiliki bangunan fisik hanya situs bersejarah, lalu masing-masing pihak, baik kaum Muslim maupun Yahudi sama-sama mengajukan klaim hak untuk membangun kembali tempat suci di sana. Selain itu penggalian dan penghancuran terselubung terhadap Masjid al-Aqsa mereka lakukan juga dalam rangka berusaha menemukan kembali tulang-belulang Yasu’ dan harta peninggalan Nabi Sulaiman yang mereka yakini terpendam di sekitar lokasi ini.

Patut diketahui bahwa Quds, berdasarkan piagam internasional tidak dianggap sebagai kota Arab maupun Yahudi, tetapi dibawah penguasaan amnesti Internasional, karena keberadaannya sebagai warisan peradaban dunia,berdasarkan resolusi tahun 1947, yang berarti bahwa masyarakat Internasionallah yang berhak menentukan bangunan apa yang lebih pantas dibangun kembali jika Masjid al-Aqsa betul-betul runtuh. Jika itu sampai terjadi kita dapat menebak ke arah mana pilihan “masyarakat internasional” tersebut di arahkan.
Oleh karenanya umat Islam harus mewaspadai tipu daya Yahudi, wajib untuk menyatukan kata menghadang tindak-tanduk orang-orang Yahudi yang membabi buta terhadap tanah dan Masjid yang diberkahi Allah. Sesungguhnya hal tersebut merupakan amanah di pundak kita. Hendaklah kita mencemaskan suatu pagi saat kita bangun tidur ternyata kita tidak lagi menjumpai Masjid al-Aqsa di tempatnya, lalu kita pun menyesali, tetapi penyesalan di waktu yang tidak lagi berguna.